Bupati Nizar Hadir di Tengah Korban Puting Beliung Tanjung Kelit, Bukti Kepedulian Tak Selalu Diukur Angka

oleh -28 Dilihat
oleh
Bupati Lingga, Muhammad Nizar bersama Wakil Bupati Lingga, H. Novrizal saat melihat langsung rumah warga terdampak angin puting beliung di Desa Tanjung Kelit, Kecamatan Bakung Serumpun, Kabupaten Lingga, Senin (15/6/2026)

Realbatam.com. Lingga – Ada musibah yang datang tanpa aba-aba. Langit yang semula tenang mendadak berubah menjadi ancaman. Angin berputar membawa kekuatan yang tak bisa dilawan. Dalam hitungan menit, atap rumah beterbangan, dinding roboh, dan rasa aman yang selama ini melekat pada sebuah rumah mendadak runtuh bersama puing-puing bangunan.

Peristiwa itulah yang dialami masyarakat Desa Tanjung Kelit, Kecamatan Bakung Serumpun, Kabupaten Lingga. Bencana angin puting beliung yang melanda wilayah tersebut meninggalkan kerusakan pada puluhan rumah warga. Sebanyak 14 rumah mengalami kerusakan berat, sementara 67 rumah lainnya mengalami kerusakan ringan.

Namun, seperti banyak kisah tentang bencana di negeri kepulauan ini, selalu ada cerita lain yang muncul setelah musibah datang. Cerita tentang gotong royong, kepedulian, dan upaya bersama untuk membantu mereka yang sedang tertimpa kesulitan.

Senin, 15 Juni 2026, Desa Tanjung Kelit menjadi tempat berkumpulnya berbagai unsur pemerintah daerah hingga provinsi. Pemerintah Kabupaten Lingga menyalurkan bantuan sosial kepada warga terdampak sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana.

Bantuan yang diberikan tidak sekadar berupa angka dalam laporan administrasi. Ada 1.625 kilogram beras yang disalurkan melalui Bulog dan Dinas Pertanian serta Ketahanan Pangan. Ada pula paket bantuan dari Baznas dan Dinas Sosial berupa family kit, kasur, sandang, selimut, serta terpal untuk warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat.

BPBD Kabupaten Lingga turut menyalurkan paket sembako, matras gulung, selimut, dan lampu lentera. Benda-benda yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, tetapi menjadi sangat berarti ketika rumah sedang diperbaiki dan aktivitas sehari-hari belum sepenuhnya pulih.

Bupati Lingga Muhammad Nizar menyampaikan rasa prihatin atas musibah yang dialami masyarakat.

“Kami turut berdukacita yang mendalam atas musibah yang terjadi dan menimpa masyarakat di Desa Tanjung Kelit. Kami ikut prihatin dan merasakan beban yang dirasakan oleh para korban,” kata Nizar.

Pernyataan tersebut mungkin terdengar formal. Namun bagi warga yang baru saja kehilangan sebagian tempat tinggalnya, kehadiran pemerintah secara langsung sering kali memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar bantuan material.

Nizar menegaskan bahwa pemerintah hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi bencana.

“Kami hadir di sini merupakan bentuk kepedulian Pemerintah Kabupaten Lingga kepada masyarakat yang mengalami musibah ataupun bencana. Semoga bantuan ini bermanfaat dan bisa meringankan beban masyarakat yang terkena musibah,” kata Nizar.

Pandangan yang menarik dari peristiwa ini bukan semata soal jumlah bantuan yang disalurkan. Nilai terpenting justru terletak pada kecepatan respons dan keterlibatan banyak pihak. Mulai dari pemerintah daerah, pemerintah provinsi, Baznas, hingga unsur keamanan dan pemerintah desa terlihat bergerak bersama.

Di tengah berbagai kabar tentang keterbatasan anggaran daerah yang kerap menjadi perbincangan, upaya menghadirkan bantuan bagi warga terdampak menjadi pesan bahwa pelayanan publik tetap berjalan ketika masyarakat membutuhkannya.

Nizar bahkan mengingatkan agar bantuan yang diberikan tidak hanya dinilai dari nominal atau jumlahnya.

“Jangan melihat dan menilai dari angka yang diberikan, akan tetapi lihatlah dari sisi kepedulian dan kehadiran Pemerintah Kabupaten Lingga kepada masyarakat,” kata Nizar.

Kalimat tersebut menyiratkan satu hal yang sering terlupakan dalam situasi bencana. Tidak semua bentuk pertolongan dapat diukur dengan angka. Ada nilai kehadiran, perhatian, dan kepastian bahwa warga tidak menghadapi musibah seorang diri.

Pada hari yang sama, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau juga menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang terdampak kebakaran rumah di Kecamatan Senayang. Bantuan berupa uang tunai, paket sembako, lampu lentera, terpal, dan matras diberikan untuk membantu kebutuhan warga selama masa pemulihan.

Bencana memang tidak pernah menjadi kabar yang diharapkan. Namun dari setiap musibah selalu muncul kesempatan untuk melihat wajah lain dari sebuah daerah. Wajah yang menunjukkan bahwa solidaritas masih hidup, gotong royong belum hilang, dan kepedulian tetap menjadi modal sosial yang paling kuat ketika masyarakat sedang diuji.

Bagi warga Tanjung Kelit, jalan menuju pemulihan mungkin masih membutuhkan waktu. Atap-atap yang rusak harus diperbaiki, rumah-rumah yang roboh harus dibangun kembali. Tetapi setidaknya, ada satu hal yang mulai berdiri lebih dulu sebelum bangunan itu kembali tegak, yakni keyakinan bahwa mereka tidak ditinggalkan menghadapi musibah sendirian. (Red)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.