RealBatam.com,Teheran – Iran kembali melancarkan serangan yang membuat Israel dan Amerika Serikat makin panas dingin karena terus membombardir selama 12 jam non-stop ke jantung infrastruktur Israel dan pangkalan militer AS di empat negara sekaligus.
Dari serangan tersebut tak ada satu pun upaya pencegatan yang berhasil dilakukan oleh pihak musuh.
Pertahanan udara Israel yang selama ini dianggap salah satu yang terkuat di dunia seolah tak berkutik menghadapi gelombang serangan yang datang bertubi-tubi.
Salah satu target utama adalah pabrik farmasi TEVA yang berlokasi di kawasan industri Neot Hovav Israel selatan.
TEVA dikenal sebagai produsen obat generik terbesar di dunia yang memasok kebutuhan medis bagi jutaan pasien di Amerika Serikat, Eropa, dan berbagai negara lainnya.
Laporan awal menyebutkan bahwa kebocoran bahan kimia terjadi setelah pabrik tersebut terkena serangan memicu ledakan susulan dan kobaran api besar.
Yang paling mengejutkan adalah laporan bahwa Iran melakukan 27 serangan di wilayah Negev dalam waktu yang sangat singkat.
Namun tidak ada satu pun sistem pertahanan udara Israel yang teraktivasi karena tidak ada pencegatan dan tidak ada sirine berbunyi.
Negev bukanlah wilayah sembarangan karena di sinilah lokasi Pusat Penelitian Nuklir Shimon Peres di Dimona berada.
Fasilitas tersebut secara luas diyakini sebagai inti dari program senjata nuklir Israel yang selama ini dirahasiakan.
Badan Energi Atom Internasional segera merespons dengan pernyataan darurat terkait insiden di kota Dimona.
Serangan ke Dimona ini terjadi hanya beberapa jam setelah AS dan Israel dilaporkan menyerang fasilitas nuklir Natanz di Iran.
Iran juga berhasil melumpuhkan pembangkit listrik Israel di Negev sehingga pemadaman listrik dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah selatan Israel.
Sementara itu kilang minyak Pelabuhan Haifa juga dilaporkan terdampak serangan yang mengganggu pasokan energi.
Kombinasi dari serangan-serangan ini langsung menghantam pasar keuangan Israel hingga anjlok 4 persen dalam hitungan jam.
Aspek paling berbahaya dari serangan 12 jam ini adalah koordinasinya yang melibatkan berbagai front secara bersamaan.
Bukan hanya Israel yang menjadi sasaran tetapi juga pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Serangan terjadi secara serentak dalam sebuah operasi yang membutuhkan perencanaan dan koordinasi tingkat tinggi.
Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, Iran telah meluncurkan ratusan rudal dan drone yang menargetkan sedikitnya 27 pangkalan pasukan AS di Timur Tengah.
Uni Emirat Arab khususnya telah menanggung beban berat karena menjadi lokasi pangkalan militer AS yang strategis.
The Guardian melaporkan bahwa pertahanan udara UEA telah melibatkan sekitar 294 rudal balistik dan 15 rudal jelajah yang diluncurkan dari Iran.
Lebih dari 1.600 drone juga telah ditembak jatuh oleh sistem pertahanan UEA sejak konflik dimulai.
Meskipun tingkat intersepsi mencapai 90 persen, beberapa rudal berhasil menembus pertahanan dan merusak bangunan termasuk hotel mewah Fairmont The Palm dan Burj Al Arab di Dubai.
Setidaknya enam orang tewas dan 141 lainnya terluka dalam serangkaian serangan di wilayah UEA.
Kuwait juga melaporkan telah mencegat 17 rudal dan 22 drone dalam satu serangan dengan total 120 rudal balistik dan 308 drone terdeteksi sejak konflik dimulai.
Bahrain mengklaim telah berhasil menghancurkan sekitar 125 rudal dan 211 drone yang diluncurkan ke wilayahnya.








