Bertepatan dengan Hari Bakti ke-55, Kepala BP Batam Raih Penghargaan Inovasi Membangun Negeri 2026 Harmoni Asa Usung Semangat Restorasi, Tawarkan Penguatan Aspirasi dan Pengembangan Kompetensi Mahasiswa POLSRI Pesantren An Ni’mah Sagulung Terbakar, Santri Terlihat Panik dan Berhamburan Dewi Ansar Buka OKE GAS di Mapur, Perkuat Peran Keluarga Cegah Stunting DPP GEMA SILAMPARI Desak Usut Dugaan Penyimpangan Anggaran Proyek Infrastruktur Di Kota Lubuklinggau. Pemprov Kepri dan Kejati Kepri Perkuat Pengamanan Proyek Strategis dan Pemulihan Aset Daerah

Nasional

Prabowo Subianto Umumkan Pemotongan Anggaran untuk Efisiensi Fiskal

badge-check


					Prabowo Subianto Umumkan Pemotongan Anggaran untuk Efisiensi Fiskal Perbesar

RealBatam.Com, Jakarta-Presiden Prabowo Subianto mengumumkan langkah pemotongan anggaran di berbagai kementerian dan lembaga untuk meningkatkan efisiensi fiskal dan menutup celah penyalahgunaan dana negara. Langkah ini diumumkan dalam pernyataan video yang dirilis oleh Sekretariat Presiden di Jakarta pada Kamis.

 

Dalam inisiatif awal untuk meningkatkan efisiensi, Prabowo menyebutkan bahwa pemerintah berhasil menghemat Rp. 308 triliun dari anggaran pemerintah pusat.

 

“Penghematan ini berasal dari pengeluaran yang tidak masuk akal. Jika tidak dipotong, dana tersebut berpotensi besar mengarah pada korupsi,” ujar Prabowo.

 

Penghematan Rp. 308 triliun tersebut berasal dari tinjauan awal terhadap pengeluaran pemerintah pusat, yang bertujuan mengidentifikasi alokasi yang tidak efisien dan tidak diperlukan. Prabowo memperingatkan bahwa jika dana tersebut tidak dikendalikan, maka akan membebani keuangan negara tanpa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

 

Prabowo juga menyoroti Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang tinggi, saat ini di angka 6,5, jauh di atas negara-negara tetangga. Menurutnya, ICOR yang tinggi ini mencerminkan ketidakefisienan sekitar 30 persen, setara dengan sekitar US$75 miliar dari anggaran negara yang mendekati Rp. 3.700 triliun.

 

Pemotongan Anggaran dan Efisiensi

Pemotongan anggaran menargetkan pengeluaran seperti acara seremonial, perlengkapan kantor, serta pertemuan dan seminar di luar kantor, yang menurut Prabowo sering kali gagal mengatasi isu inti seperti pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja. Pemerintah juga meninjau praktik pengadaan rutin, termasuk pembelian komputer dan peralatan kantor yang sering dilakukan setiap tahun.

 

Prabowo menekankan bahwa penghematan substansial masih mungkin dilakukan dengan memperketat pengawasan terhadap pengeluaran non-esensial di seluruh lembaga pemerintah. Sebagai langkah tambahan untuk mengurangi biaya operasional, pemerintah mempertimbangkan pengaturan kerja baru, termasuk minggu kerja yang lebih pendek dan adopsi kerja jarak jauh yang lebih luas.

 

“Saya melihat negara lain mengurangi minggu kerja dari lima hari menjadi empat, seperti Filipina dan Pakistan. Kemudian ada kerja dari rumah. Selama COVID, kita berhasil melaksanakannya dengan baik. Saya pikir kita bisa melakukannya lagi. Mungkin 75 persen pegawai bisa bekerja dari rumah,” kata Prabowo.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Setelah Ramai Jadi Sorotan Publik, Dua Putra Gus Irfan Tinggalkan Jabatan Tenaga Ahli Kemenhaj

27 Oktober 2026 - 16:07 WIB

Wamenhaj Imbau Umrah Tak Naik Pesawat Transit Malaysia-Singapura

27 Oktober 2026 - 03:20 WIB

Bamsoet Dukung Sufmi Dasco: Indonesia Harus Berani Tentukan Rating Bursa Sendiri, MSCI Bukan Penentu Nasib Ekonomi Bangsa

26 Oktober 2026 - 19:28 WIB

Mendagri Tito Karnavian: Normalisasi 137 Sungai Jadi Prioritas Pulihkan Pascabencana Sumatera

26 Oktober 2026 - 19:20 WIB

DEN Dorong MBG Prioritaskan Wilayah 3T, Desa dan Masyarakat Miskin

21 Oktober 2026 - 12:31 WIB

Trending di Nasional