442 Atlet Batam Berlaga di Porprov Kepri 2026, Targetkan Juara Umum Jambore PKK Batam 2026 Digelar November, 120 Kader Siap Berpartisipasi Pemuda dan Masa Depan Indonesia: Berhenti Seremonial, Mulai Bergerak Setelah Ramai Jadi Sorotan Publik, Dua Putra Gus Irfan Tinggalkan Jabatan Tenaga Ahli Kemenhaj Arus Balik HMI: Dari Kuadran Pasar Menuju Sosialisme Konstitusional Pimpin Apel Gabungan, Bupati Aneng Tekankan Pentingnya Disiplin dan Integritas ASN

Sumatera Selatan

Alumnus Universitas Gadjah Mada: Polemik “Enjoy” Ratu Dewa Perlu Dilihat Secara Utuh, Bukan Sepenggal Kata

badge-check


					Alumnus Universitas Gadjah Mada: Polemik “Enjoy” Ratu Dewa Perlu Dilihat Secara Utuh, Bukan Sepenggal Kata Perbesar

Realbatam.com. Palembang-Polemik mengenai istilah “enjoy” yang disampaikan Wali Kota Palembang Ratu Dewa di tengah kabut asap perlu dilihat secara utuh. Menurut Drh. H. Alfin Suhanda, M.Sc., Direktur Public Health TERAS Indonesia sekaligus alumnus Universitas Gadjah Mada, pilihan kata tersebut memang dapat menimbulkan tafsir berbeda, tetapi konteks dan langkah konkret pemerintah juga perlu menjadi bagian dari penilaian publik.

“Dalam situasi seperti ini, komunikasi pejabat publik memang harus hati-hati. Namun, kita juga perlu melihat konteks pernyataannya secara utuh. Ratu Dewa sudah memberikan klarifikasi bahwa yang dimaksud dengan ‘enjoy’ adalah tetap tenang dan mampu mengendalikan diri dalam menghadapi situasi krisis,” ujar Alfin.

Menurutnya, ketenangan pemimpin dalam situasi krisis merupakan bagian dari proses pengambilan keputusan.

“Pemimpin tentu harus tenang agar koordinasi dan pengambilan keputusan berjalan baik. Tetapi ketenangan itu harus diikuti dengan tindakan. Jadi, yang perlu dilihat adalah bagaimana pemerintah bekerja menghadapi persoalan di lapangan,” katanya.

Alfin menyebut sejumlah langkah Pemkot Palembang yang dapat dilihat publik. Pemerintah kota menyiagakan enam puskesmas selama 24 jam untuk menangani warga dengan gangguan pernapasan atau gejala ISPA. Pemkot juga mengerahkan 30 armada Damkar setiap hari dan memperkuat koordinasi dengan BPBD, TNI, Polri serta unsur masyarakat dalam penanganan karhutla.

Selain itu, Pemkot memperkuat layanan bagi warga terdampak kualitas udara, membagikan masker terutama kepada kelompok rentan, melakukan penyiraman sejumlah ruas jalan, serta menyiapkan penyesuaian kegiatan belajar ketika kondisi udara tidak memungkinkan untuk aktivitas luar ruang.

“Artinya, ada pekerjaan konkret yang sedang dilakukan. Tentu langkah-langkah tersebut tetap perlu dievaluasi dan ditingkatkan sesuai perkembangan kondisi di lapangan. Tetapi publik juga perlu melihat keseluruhan respons pemerintah, tidak hanya satu istilah,” ujarnya.

Alfin menambahkan, persoalan kabut asap juga membutuhkan koordinasi lintas daerah karena dampaknya tidak berhenti pada batas administratif Kota Palembang.

“Karena itu, energi pemerintah dan masyarakat sebaiknya diarahkan pada penanganan karhutla, perlindungan kesehatan, serta koordinasi lintas wilayah. Polemik komunikasi tetap penting sebagai evaluasi, tetapi keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas,” pungkasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Lemahnya Kelembagaan DPRD Sumsel Sikapi Karhutla, Pengamat: PAW Bisa Jadi Jalan Penyegaran

19 Oktober 2026 - 18:19 WIB

Ketua Umum DPP HIMPAL Kecam Keras Kekerasan terhadap Mahasiswa dan Wartawan di Mapolda Sumsel

14 Oktober 2026 - 17:54 WIB

Resi Febrianti: Kekerasan dalam Aksi di Polda Sumsel Tidak Boleh Membungkam Aspirasi Mahasiswa

14 Oktober 2026 - 17:50 WIB

Sekjen IKA FISIP Unsri: Wali Kota Konsisten Bantu Warga Terdampak, Jangan Terjebak Potongan Pernyataan

8 Oktober 2026 - 12:44 WIB

Pengamat: Palembang Bukan Pusat Karhutla, Ratu Dewa Tetap Bergerak Lindungi Warga

7 Oktober 2026 - 22:34 WIB

Trending di Sumatera Selatan