PII Wati Rayakan Hari Lahir ke-62, Melisa: Tumbuh Berdaya, Merawat Diri, Menginspirasi Negeri PII Wati Luncurkan Rumah Aman Sahabat, Hadirkan Ruang Perlindungan bagi Perempuan dan Anak Rapimnas PII 2026 Digelar di Jakarta, Amsal Tegaskan Penguatan Pendidikan dan Kewirausahaan Pelajar Pemko Batam-APINDO Perkuat Serapan Tenaga Kerja Lokal, 30 Perusahaan Berkomitmen Koopsudnas Gelar Latihan Force Down di Batam, Amsakar Puji Kesiapsiagaan TNI AU Jaga Udara Batam Kualitas Udara Tanjungpinang Masih Kategori Sedang, Masyarakat Diimbau Tetap Waspada

Regional

“Label Kota Bersih Banjar?? Tapi Hanyalah Lipstik di Atas Sampah Moral”

badge-check


					“Label Kota Bersih Banjar?? Tapi Hanyalah Lipstik di Atas Sampah Moral” Perbesar

RealBatam.com,Banjar-Predikat “Kota Bersih” yang selama ini disandang Kota Banjar mendapat tamparan keras dari kalangan aktivis. Sandi Mardiana Putra, aktivis Muda Banjar setempat, melontarkan kritik pedas terkait temuan memprihatinkan di sejumlah aset publik, mulai dari kawasan Banjar Water Park (BWP) hingga Situ Leutik.

Sandi menilai, penghargaan kebersihan yang dibanggakan pemerintah daerah saat ini kontras dengan realita di lapangan. Menurutnya, citra tersebut hanyalah sebuah formalitas administratif yang menutupi degradasi moral di ruang publik.

Ironi di Balik Piala Penghargaan
Temuan sampah berupa alat kontrasepsi (kondom) dan botol minuman keras (miras) di area wisata BWP dan Situ Leutik menjadi pemantik kritik tersebut. Sandi menegaskan bahwa fenomena ini adalah bukti nyata lemahnya pengawasan aset daerah.

“Sangat ironis. Di satu sisi kita memajang piala kota bersih, tapi di sisi lain, kawasan BWP dan Situ Leutik dibiarkan menjadi ‘monumen’ kegagalan pemeliharaan aset. Sampah kondom dan botol miras itu tanda adanya pembiaran terhadap aktivitas negatif,” tegas Sandi.

Soroti “Kebersihan Semu” dan Pengawasan Mandul
Dalam pernyatannya, Sandi menggarisbawahi tiga poin krusial yang harus segera dievaluasi oleh Pemerintah Kota Banjar:
1. Kebersihan Semu: Kebersihan jangan hanya dipoles di jalan protokol untuk penilaian, sementara aset strategis dibiarkan menjadi “sampah moral”.
2. Pengawasan Mandul: Minimnya penerangan dan absennya patroli rutin membuat ruang publik beralih fungsi menjadi tempat maksiat.
3. Dampak Psikologis: Sebagai bagian dari Gerakan Pemuda Banjar I, Sandi mengkhawatirkan rusaknya mentalitas generasi muda jika area wisata justru menjadi lokasi bebas berbuat negatif tanpa pengawasan.

Desakan Tindakan Nyata
Sandi Mardiana Putra mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret. Ia menuntut perbaikan fasilitas penerangan, pengetatan penjagaan di area rawan, serta memfungsikan kembali aset daerah agar tidak terbengkalai.

“Jangan biarkan label Kota Bersih ini berubah menjadi slogan kosong yang memalukan warga Banjar. Kebersihan sejati sebuah kota tercermin dari kebersihan lingkungan dan kesucian moralitas masyarakatnya,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BPJS Ketenagakerjaan Langsa Siap Berkolaborasi Sukseskan Festival PKRM PRIMA DMI

11 September 2026 - 08:39 WIB

Sekretaris Umum HISSI Aceh Apresiasi dan Dukung Penuh PKRM PRIMA DMI Langsa

11 September 2026 - 08:35 WIB

Dari Julok Menuju Tiongkok: Shilva Zohra Raih Beasiswa Penuh Kuliah Di China

10 September 2026 - 18:17 WIB

Dari Tunai Ke Digital, KKN Desa Dewi Sri Dampingi UMKM Desa Dewi Sri Gunakan Qris

10 September 2026 - 16:27 WIB

Semarak Memperingati Maulid, KKN Desa Dewi Sri Melaksanakan Pekan Kreativitas Anak Islami asah potensi dan Nilai Keislamaan Anak

10 September 2026 - 15:21 WIB

Trending di Regional