Oleh; Amirul Khalish Manik, S.Fil., S.Pd.
Alumni Dayah Modern Chi’ek Oemar Diyan
Saat ini tidak ada kata kunci yang begitu populer dan diminati oleh setiap bangsa, selain dari istilah “modernisasi dan industrialisasi”, kedua hal itu memang berhubungan erat dengan kemajuan dan pembangunan.
Di atas kedua kata kunci itu ditumpukan berbagai optimisme bahwa dengan modernisasi umat manusia akan mampu mengatasi kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan serta seterusnya daapat menjelajahi perkembangan dunia serta berkat industrialisasi jua yang dapat mengatasi masalah-masalah sosial-ekonomi. Kedua kata kunci itu memiliki korelasi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi atau iptek.
Kendati modernisasi maupun industrialisasi pada dasarnya adalah untuk memecahkan masalah-masalah dasar pada hidup dan kehidupan umat manusia, namun yang terjadi malah sebaliknya, bahwa banyak di antara umat manusia yang keliru, menjadikan modernisasi dan industrialisasi sebagai tujuan, bukan sarana untuk mencapai kemaslahatannya.
Demikian juga yang terus berkecamuk di alam pikiran generasi muda yang mengaku dirinya beridentitas Muslim, namun apa hendak dikata, mereka ini tersesat ditengah-tengah arus modernisasi dan diterpa kemajuan industrialisasi.
Suatu tantangan yang harus dihadapi, bukan hanya berdimensi jangka panjang tetapi dalam hitungan detik. Karena perkembangan perubahan itu yang menyebabkan semacam pergeseran tata nilai. Perubahan adalah sesuatu hal yang mesti terjadi. Akibat dari pandangan “iptek” mesti dikuasai, tetapi tanpa diselaraskan dengan nilai-nilai fundamental “iman dan taqwa” atau “imtaq”.
Dalam suasana kehidupan modern yang memang sarat dengan “kemajuan kebendaan” tentunya akan membawa perkembangan ke arah kebaikan, namun yang sungguh memprihatinkan dan malah mencemaskan, bahwa kehidupan modern itu akan dapat menyebabkan “kemunduran” bilamana umat Islam, khususnya generasi muda Islam sampai lalai apalagi meninggalkan ajaran agamanya yang luhur.
Dengan pelbagai kebebasan yang dilakoninya, umumnya generasi muda tidak lagi berangkat dari kepentingan jangka panjang, namun lebih sering memandang sesuatunya itu dari pemikiran jangka pendek, yang bersifat instan. Demikian pula halnya dalam menyikapi perubahan yang sedang dijalaninya.
Profil kepribadian kaum muda yang sedang mencari “bentuk” tentunya menjadi “mangsa” di alam kehidupan modern, karena dalam perkembangan kehidupannya, para kaum muda telah nyaris kehilangan nilai-nilai etika dan mora-litasnya.
Pikirannya telah berubah alam pikiran kemanusiannya (human thought) menjadi “semacam pikiran mesin” (the thinking of machiness), karena alam pikiran di seba-gian besar generasi muda ibarat perangkat “komputer”, yang diisi program tertentu, kemudian diaplikasikan sedemikian rupa, kemudian dijalankan menurut kehendak orang yang menggunakannya.
Demikian besarnya pengaruh teknologi modern itu pada alam kehidupan generasi muda, sehingga sistem sosial modernnya mengalami “homogenisasi”, dimana keberadaannya hanya berfungsi seperti sebuah mesin, dan sosok-sosok individu generasi muda yang sedang dalam kancah pergolakan itu bagaikan sekrup-sekrup kecil yang memang tidak lagi mempunyai pilihan.
Karenanya, tiap individu generasi muda dalam kehidupan umat seakan-akan tiada berharga (nobody) yang lebur ke dalam siklus masyarakat masinal yang bersifat atomitis, maka seseorang generasi muda yang dihinggapi kondisinya yang demikian, akan kehilangan rasa percaya diri dan tercabutnya identitas dirinya sebagai Muslim.
Tantangan yang bakal dihadapi generasi muda Islam akan dan memang terus berkembang, hanya ada jawaban “maju terus dengan kesiapan diri yang kuat untuk menghadapi tantangan dengan memanfaatkan peluang yang ada” atau harus “mundur teratur seraaya menghilangnya peluang”. Generasi muda yang rapuh kualitas iman, ilmu, dan amalnya niscaya hanya menjadi figuran-figuran yang menyertai kehidupan modern.
Ada tujuh tantangan yang dihadapi di masa kini yang tentunya akan membesar volumenya di masa depan.
1. Pertama karena berkembangnya budaya massa diakibatkan kuatnya dominasi teknologi informasi, sehingga berdampak buruh pada keadaan etik dan moral generasi muda Islam.
2. Kedua dengan tumbuh dan berkembangnya sikap hidup yang lebih terbuka, sehingga memungkinkan terjadinya proses perubahan dalam pola pikir yang dijalankan oleh kaum muda.
3. Ketiga dengan adanya sikap hidup yang rasional, maka pertimbangan-pertimbangan ajaran agama tidak lagi menjadi dasar bagi generasi muda dalam bersikap, berpikir, dan bertindak.
4. Keempat, perkembangan sikap dan orientasi hidup kebendaan, bagi generasi muda menjadi sederhana pola hidupnya, ukuran-ukuran kebendaan adalah menjadi tolok ukur sesuatu itu.
5. Kelima meluasnya mobilitas sosial, mempercepat proses interaksi sosial generasi muda dengan lingkungan yang bersifat merusak.
6. Keenam, makin berkembangnya sikap hidup yang individualistis, menyebabkan mudahnya renggang ikatan silaturrahmi dan kebersamaan pada kaum muda yang lebih memilih suasana hidup yang hura-hura.
7. Dan yang ketujuh, munculnya sikap hidup generasi muda yang cenderung longgar pada segala bentuk penyimpangan terhadap ajaran agamanya, karenanya yang disebut kemungkaran, lebih melihatnya dengan kaca mata kuda saja.
Dalam melintasi gelombang kehidupan yang sarat dengan sifat-sifat tercela dan jalan-jalan tersesat, generasi muda wajib meningkatkan kualitas iman, ilmu, dan amal, secara garis besar uraiannya :
Dengan kualitas Iman, maka generasi muda Islam akan memiliki komitmen yang utuh dalam pengaabdiannya kepada Allah SWT, menolak pedoman hidup yang bertentangan dengan agamanya, bersikap progresif dengan senaniasa melakukan penilaian pada kualitas kehidupannya, tujuan hidupnya yang tegas “lillahi rabbil ‘alamin”, dan selaku manusia tauhid memiliki visi yang jelas tentang kehidupan yang dibangunnya bersama manusia-manusia yang lain;
Didasarkan pada kualitas ilmu, tentunya generasi muda tidak akan mudah terpengaruh apalagi dipengaruhi oleh pola hidup yang bertentangan dengan ajaran Islam serta mengarahkannya pada upaya mengaplikasikan ilmu yang dikuasainya untuk membangun lingkungan yang Islami;
Dan karena kualitas amaliahnya yang pada hakikatnya merupakan amanah yang mengandung pertanggungjawaban serta senantiasa amal yang dilakukannya berfokus pada prinsip-prinsip ukhuwah Islamiyah.
Penutup
Sosok generasi muda Islam yang memiliki kualitas iman, ilmu dan amal ini akan mampu melihat, membaca, menganalisa, dan mengimplementasikannya agar tetap berada pada jalur yang benar, karena itu menggunakan metode SWOT :
- Mengkaji faktor strength (kekuatan) ilmu yang dimilikinya sehingga dapat mengatur strategi dan menjalankan taktiknya secara tepat, untuk memperoleh hasil yang berdayaguna.
- Mengetahui faktor weakness (kelemahan) pada dirinya, agar dapat mengukur kemampuan potensi dirinya sebelum melakukan sesuatu’
- Membaca faktor opportunty (peluang) yang ada seraya menganalisa langkah-langkah yang perlu agar peluang itu dapat dihasilgunakan semaksimal mungkin;
- Dan menganalisa setiap bentuk faktor threatment (ancaman) secara cermat, agar langkah-langkah yang dilakukan benar-benar sudah teruji.
Penulis Adalah :
1. Wakil Ketua Umum PP PRIMA DMI 2023-2027
2. Dewan Pertimbangan IkoeD 2025-2028
3. Aktif di berbagai OKP dan Ormas
4. Mantan Aktifis PII dan HMI







