Tuan Rumah Tanjungpinang Raih Emas, Perak dan Perunggu pada Cabor Panjat Tebing Porprov VI Kepri Dirjen Otda Siap Fasilitasi Usulan Pembangunan Embung ke Kementerian PU Dandim 0315/Tanjungpinang Silaturahmi, Wali Kota Lis Harapkan Sinergi Terus Terjalin Wali Kota Lis: Kemitraan REI dan Pemda Buka Peluang Investasi di Tanjungpinang Pemko Siapkan Senggarang dan Kampung Bugis Jadi Pusat Ekonomi Baru Mulai 2027 Sekdaprov Misni Hadiri MUSDA IV LVRI dan MUSDA PD PIVERI Kepri

Batam

Jerit Keluarga, Dugaan Komersialisasi Makam di Yayasan Marturia Batam, Biaya Rp 20 Juta Tanpa Rincian Jelas!

badge-check


					Jerit Keluarga, Dugaan Komersialisasi Makam di Yayasan Marturia Batam, Biaya Rp 20 Juta Tanpa Rincian Jelas! Perbesar

‎RealBatam.Com. Batam-Di tengah suasana duka yang mendalam, sebuah keluarga di Batam justru harus berhadapan dengan tembok keras manajemen pemakaman. Harapan untuk memberikan penghormatan terakhir yang layak bagi orang terkasih kini dibayangi oleh beban biaya fantastis yang dipatok oleh pihak pengelola makam di kawasan Batu Batam.

 

‎Berdasarkan bukti percakapan yang dikirimkan pihak keluarga ke Awak Media, Minggu (05/04/26), pihak manajemen yang diketahui bernama Agust Kwee, mewakili Yayasan Marturia Batam (Rumah Duka Marga Tionghoa Batam), mematok tarif sebesar Rp. 20.000.000 (Dua Puluh Juta Rupiah) untuk pembuatan satu set makam standar yayasan beserta sekat lahan kosong.

 

‎‎”Mahal Sekali Pak…”

‎Drama ini memuncak ketika pihak keluarga mencoba menegosiasikan harga tersebut karena dianggap sangat memberatkan. Alih-alih mendapatkan keringanan atau solusi kemanusiaan, pihak keluarga justru mendapatkan jawaban yang mengecewakan.

 

‎Ketika keluarga meminta rincian biaya secara transparan untuk apa saja uang Rp. 20 juta tersebut digunaka, Agust Kwee tidak memberikan penjelasan detail. Ia hanya menegaskan bahwa biaya tersebut adalah harga paket untuk satu set makam dan sekat lahan.

 

‎Ketegangan semakin terasa saat pihak keluarga, yang merasa keberatan dengan harga tersebut, berinisiatif untuk membangun makam itu sendiri dengan tukang dari luar agar lebih terjangkau. Namun, upaya ini sempat mendapat penolakan.

‎”Maaf bang gak bisa,” tulis Pak Agust dalam pesan singkatnya saat keluarga meminta izin membangun sendiri.

‎Meskipun belakangan pihak manajemen akhirnya mempersilakan keluarga membangun sendiri dengan nada sarkastik setelah pihak keluarga membawa-bawa nama pejabat Dinas Perkimtan dan anggota Dewan Kota, perlakuan ini menyisakan luka mendalam. Pihak manajemen bahkan sempat melontarkan kalimat yang dinilai tidak simpatik kepada keluarga yang sedang berduka.

 

‎Keluarga yang sedang kemalangan ini merasa terjepit. Di satu sisi mereka ingin menuntaskan kewajiban bagi jenazah,namun di sisi lain mereka dihadapkan pada sistem yang terkesan kaku dan tidak transparan.

‎Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan rinci mengapa biaya pembuatan makam standar di lokasi “VIP” tersebut bisa mencapai angka yang begitu tinggi tanpa adanya rincian komponen biaya yang jelas bagi konsumen atau ahli waris.

‎Fenomena ini menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat Batam: Apakah penghormatan terakhir bagi mereka yang telah tiada kini telah berubah menjadi komoditas bisnis yang mencekik?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perkuat Pertahanan Negara, Pemko Batam Kirim 35 ASN Ikuti Seleksi Komcad

5 November 2026 - 01:55 WIB

Penataan Reklame Batam Mengacu Masterplan, Tujuh Permohonan Disetujui

4 November 2026 - 21:15 WIB

Surat Terbuka Untuk Bapak Presiden RI Prabowo Subianto

4 November 2026 - 18:13 WIB

Buka Ruang Kolaborasi, Amsakar Tekankan Peran Pers dalam Pembangunan Batam

4 November 2026 - 17:58 WIB

Tindak Lanjuti Laporan Warga, Amsakar Pastikan Tiga Anak di Bengkong Mendapat Akses Pendidikan

3 November 2026 - 22:22 WIB

Trending di Batam