Diplomat PBB Mundur, Tuding Ada Skenario Nuklir ke Iran dan Peringatkan Dunia soal Ancaman Kemanusiaan

oleh -35 Dilihat
oleh

RealBatam.Com. New York – Seorang diplomat berpangkat tinggi di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Mohamad Safa, mengumumkan pengunduran dirinya setelah melontarkan tuduhan serius terkait kemungkinan skenario penggunaan senjata nuklir terhadap Iran.

Safa menyatakan keputusan mundur tersebut diambil setelah hampir 12 tahun menjabat sebagai Perwakilan Tetap Organisasi Visi Patriotik untuk PBB.

Ia menyampaikan pengunduran diri pada tanggal 27 Maret 2026 dengan alasan ingin mengungkap informasi yang menurutnya sangat penting bagi publik internasional.

Pernyataan tersebut langsung memicu perhatian luas karena menyangkut isu sensitif terkait keamanan global dan potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Menurut laporan media internasional Middle East Eye, Safa menyebut pengunduran dirinya dilakukan sebagai bentuk protes sekaligus upaya membocorkan informasi yang ia anggap krusial.

Organisasi yang diwakilinya, Patriotic Vision Organization, merupakan organisasi non-pemerintah yang memiliki status konsultatif khusus di Dewan Ekonomi dan Sosial PBB.

Dalam pernyataannya, Safa menuding sejumlah pejabat senior di PBB tidak lagi bekerja sepenuhnya untuk kepentingan lembaga internasional tersebut.

Ia bahkan mengklaim bahwa beberapa pihak lebih melayani kepentingan lobi tertentu dibandingkan mandat perdamaian PBB.

Saya tidak yakin orang memahami betapa seriusnya situasi ini, karena PBB sedang mempersiapkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran, ujar Safa dalam pernyataannya.

Ia menambahkan bahwa keputusan mundur tersebut merupakan bentuk pengorbanan pribadi demi mengingatkan dunia.

Saya mengorbankan karier diplomatik saya untuk membocorkan informasi ini, katanya.

Saya menghentikan tugas saya agar tidak menjadi bagian dari atau saksi atas kejahatan terhadap kemanusiaan ini, tegas Safa.

Setelah pengunduran diri tersebut, Safa juga menyampaikan kekhawatirannya melalui unggahan di media sosial X pada tanggal 29 Maret 2026.

Dalam unggahannya, ia menampilkan foto kota Teheran dan menyoroti potensi dampak kemanusiaan jika konflik benar-benar meningkat.

Menurut Safa, banyak pihak yang tidak memahami besarnya dampak tragedi jika serangan nuklir benar-benar terjadi di kota tersebut.

Ini bukan gurun dengan populasi rendah, tulisnya.

Ada keluarga, anak-anak, hewan peliharaan, dan orang-orang kelas pekerja biasa dengan mimpi, demikian cuitan Safa.

Ia juga mengingatkan bahwa Teheran merupakan kota besar dengan populasi hampir 10 juta penduduk yang sangat padat.

Untuk menggambarkan besarnya potensi dampak, Safa mengajak publik membayangkan situasi serupa terjadi di kota-kota besar dunia.

Bayangkan jika Washington DC, Berlin, Paris, atau London dibom dengan senjata nuklir, tulisnya di akun X.

Pernyataan Safa muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terkait kemungkinan eskalasi konflik yang melibatkan Iran.

Menurut laporan Politico, pejabat dari Organisasi Kesehatan Dunia juga tengah mempersiapkan langkah-langkah menghadapi skenario terburuk jika konflik meningkat.

Direktur Regional WHO, Hanan Balkhy, menyatakan bahwa pihaknya sedang menyiapkan berbagai rencana darurat untuk antisipasi dini.

Skenario terburuk adalah insiden nuklir dan itu yang paling kami khawatirkan, ujar Balkhy.

Ia menjelaskan bahwa dampak dari insiden nuklir tidak hanya akan dirasakan oleh negara yang menjadi lokasi kejadian tetapi juga dapat mempengaruhi komunitas global dalam jangka waktu sangat panjang.

Menurutnya, dampak radiasi dan kerusakan lingkungan akibat senjata nuklir dapat berlangsung puluhan tahun.

WHO saat ini tengah mempersiapkan berbagai skenario darurat termasuk serangan terhadap fasilitas nuklir, kecelakaan nuklir, hingga penggunaan senjata nuklir secara langsung.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh mantan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional, Mohamed ElBaradei.

Ia tidak sepenuhnya menutup kemungkinan terjadinya penggunaan senjata nuklir dalam konflik geopolitik yang semakin tegang saat ini.

Apakah saya bisa seratus persen menyingkirkannya, tidak, ujar ElBaradei.

Apakah saya berdoa setiap malam agar itu tidak terjadi, ya, tuturnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa risiko eskalasi konflik nuklir masih menjadi kekhawatiran nyata bagi komunitas internasional.

Di tengah situasi yang semakin tegang, sejumlah politisi di Iran mulai mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.

Perjanjian internasional tersebut selama ini menjadi kerangka utama dalam upaya global untuk mencegah penyebaran senjata nuklir.

Jika Iran benar-benar keluar dari NPT, langkah tersebut dikhawatirkan dapat memperburuk situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah dan meningkatkan risiko perlombaan senjata nuklir.

Isu penggunaan senjata nuklir selalu menjadi perhatian serius dunia internasional karena potensi dampaknya yang sangat luas dan tidak terbatas wilayah.

Selain korban jiwa dalam jumlah besar, serangan nuklir juga dapat menyebabkan kerusakan lingkungan jangka panjang, kontaminasi radiasi, serta krisis kemanusiaan berskala global.

Karena itu berbagai organisasi internasional terus mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan dialog而非 kekerasan bersenjata.(*)

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.