Arus Balik HMI: Dari Kuadran Pasar Menuju Sosialisme Konstitusional Pimpin Apel Gabungan, Bupati Aneng Tekankan Pentingnya Disiplin dan Integritas ASN Wamenhaj Imbau Umrah Tak Naik Pesawat Transit Malaysia-Singapura Rencana Penggunaan PLTN di Batam: Antara Ketahanan Energi Nasional dan Ancaman Keselamatan Publik Bamsoet Dukung Sufmi Dasco: Indonesia Harus Berani Tentukan Rating Bursa Sendiri, MSCI Bukan Penentu Nasib Ekonomi Bangsa Mendagri Tito Karnavian: Normalisasi 137 Sungai Jadi Prioritas Pulihkan Pascabencana Sumatera

Daerah

“Label Kota Bersih Banjar?? Tapi Hanyalah Lipstik di Atas Sampah Moral”

badge-check


					“Label Kota Bersih Banjar?? Tapi Hanyalah Lipstik di Atas Sampah Moral” Perbesar

RealBatam.com,Banjar-Predikat “Kota Bersih” yang selama ini disandang Kota Banjar mendapat tamparan keras dari kalangan aktivis. Sandi Mardiana Putra, aktivis Muda Banjar setempat, melontarkan kritik pedas terkait temuan memprihatinkan di sejumlah aset publik, mulai dari kawasan Banjar Water Park (BWP) hingga Situ Leutik.

Sandi menilai, penghargaan kebersihan yang dibanggakan pemerintah daerah saat ini kontras dengan realita di lapangan. Menurutnya, citra tersebut hanyalah sebuah formalitas administratif yang menutupi degradasi moral di ruang publik.

Ironi di Balik Piala Penghargaan
Temuan sampah berupa alat kontrasepsi (kondom) dan botol minuman keras (miras) di area wisata BWP dan Situ Leutik menjadi pemantik kritik tersebut. Sandi menegaskan bahwa fenomena ini adalah bukti nyata lemahnya pengawasan aset daerah.

“Sangat ironis. Di satu sisi kita memajang piala kota bersih, tapi di sisi lain, kawasan BWP dan Situ Leutik dibiarkan menjadi ‘monumen’ kegagalan pemeliharaan aset. Sampah kondom dan botol miras itu tanda adanya pembiaran terhadap aktivitas negatif,” tegas Sandi.

Soroti “Kebersihan Semu” dan Pengawasan Mandul
Dalam pernyatannya, Sandi menggarisbawahi tiga poin krusial yang harus segera dievaluasi oleh Pemerintah Kota Banjar:
1. Kebersihan Semu: Kebersihan jangan hanya dipoles di jalan protokol untuk penilaian, sementara aset strategis dibiarkan menjadi “sampah moral”.
2. Pengawasan Mandul: Minimnya penerangan dan absennya patroli rutin membuat ruang publik beralih fungsi menjadi tempat maksiat.
3. Dampak Psikologis: Sebagai bagian dari Gerakan Pemuda Banjar I, Sandi mengkhawatirkan rusaknya mentalitas generasi muda jika area wisata justru menjadi lokasi bebas berbuat negatif tanpa pengawasan.

Desakan Tindakan Nyata
Sandi Mardiana Putra mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret. Ia menuntut perbaikan fasilitas penerangan, pengetatan penjagaan di area rawan, serta memfungsikan kembali aset daerah agar tidak terbengkalai.

“Jangan biarkan label Kota Bersih ini berubah menjadi slogan kosong yang memalukan warga Banjar. Kebersihan sejati sebuah kota tercermin dari kebersihan lingkungan dan kesucian moralitas masyarakatnya,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PA GMNI Jabar Siap Jadi Mitra Strategis & Kritis Pemerintah

26 Oktober 2026 - 01:07 WIB

PW PII Kalbar Bersama PD PII Pontianak Audiensi dengan Disporapar, Dorong Pengembangan Potensi dan Kepemimpinan Pemuda Pelajar

21 Oktober 2026 - 14:04 WIB

Bukan Sekadar Persoalan Satu Pasien, Kasus Infus Balita di Karawang Jadi Momentum Pembenahan Pelayanan Kesehatan

2 Oktober 2026 - 15:46 WIB

Dinkes Karawang Diminta Beri sangsi terhadap R.S Permata Keluarga Kasus Dugaan Kelalaian Pelayanan Anak

2 Oktober 2026 - 15:39 WIB

Perlindungan Pasien Anak Jadi Sorotan, Keluarga Pertanyakan Prosedur Pemasangan Infus di RS Permata Keluarga

2 Oktober 2026 - 15:33 WIB

Trending di Jawa Barat