BP Batam Berikan Anugerah Investasi 2026, Apresiasi Kontribusi Investor bagi Pembangunan Batam Raih Gelar Winner First Face Kids Junior Indonesia 2026, Queenera Harumkan Nama Tanjungpinang Dilepas Wali Kota Lis, Kota Rebah Jadi Titik Awal Kirab Obor Porprov Kepri VI 2026 Sambut Kontingen PORPROV VI Kepri, Lis Harap Perkuat Persaudaraan Antar Daerah Bela Raffi Ahmad, Ketua Bidang Kastrat DPP GEMURA Rafi Amar Ajak Publik Kedepankan Objektivitas dan Hentikan Politisasi Bela Raffi Ahmad, Tokoh Pemuda Abdul Kohar Ruslan Ajak Publik Kedepankan Objektivitas dan Hentikan Politisasi

Batam

Di Tengah Perebutan Bisnis Air Batam, Warga Pulau Jaloh Berebut Setetes Air Bersih

badge-check


					Di Tengah Perebutan Bisnis Air Batam, Warga Pulau Jaloh Berebut Setetes Air Bersih Perbesar

Realbatam.com. Batam-Di saat polemik pengelolaan air bersih di Kota Batam terus bergulir dan proyek-proyek penyediaan air bernilai miliaran hingga triliunan rupiah terus dibangun, warga Pulau Jaloh, Kelurahan Pantai Gelam, Kecamatan Bulang, justru masih berjuang untuk mendapatkan kebutuhan paling mendasar, yakni air bersih.

Ironi itu terlihat nyata di pulau hinterland tersebut. Setiap hari, warga harus mengantre di sebuah sumur buatan yang debit airnya terus menyusut akibat musim kering.

Bahkan, untuk memperoleh beberapa jeriken air, mereka harus menunggu berjam-jam hingga mata air perlahan muncul dari dasar sumur.

Kondisi memprihatinkan itu diungkapkan Icam, seorang pendatang yang kerap beraktivitas di Pulau Jaloh.

Selama berada di pulau tersebut, ia menyaksikan langsung bagaimana masyarakat harus berjibaku memenuhi kebutuhan air untuk mandi, memasak, hingga keperluan rumah tangga.

“Saya melihat sendiri warga sangat kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka harus mengantre di sumur yang sekarang sudah mulai mengering,” kata Icam, Minggu (2/8/2026).

Ia bahkan memperlihatkan rekaman video yang menunjukkan dasar sumur sudah hampir kering. Air yang tersisa bercampur pasir sehingga warga tetap menggunakannya untuk mandi karena tidak memiliki pilihan lain.

Menurutnya, warga harus bersabar menunggu berjam-jam hingga rembesan air kembali memenuhi dasar sumur sebelum dapat ditimba sedikit demi sedikit.

Tak hanya sumur warga yang mengalami kekeringan. Waduk yang dibangun pemerintah di Pulau Jaloh juga disebut sudah mengering sehingga tidak lagi mampu menyuplai kebutuhan air masyarakat.

“Di sini warga kesulitan air bersih. Setidaknya pemerintah dapat membantu mengatasi permasalahan air bersih ini,” ujar Icam.

Ia mengaku selama berada di Pulau Jaloh bahkan hanya mandi sekali dalam sehari sebagai bentuk penghematan air, mengikuti kondisi yang dialami masyarakat setempat.

Mayoritas penduduk Pulau Jaloh menggantungkan hidup sebagai nelayan. Namun, di balik kekayaan laut yang menjadi sumber penghidupan mereka, akses terhadap air bersih justru menjadi persoalan yang belum terselesaikan.

Situasi ini memunculkan ironi besar. Di satu sisi, Kota Batam dikenal memiliki sejumlah waduk besar, berbagai proyek pengembangan infrastruktur air, hingga pembangunan instalasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) yang menelan anggaran besar.

Di sisi lain, warga di pulau-pulau hinterland seperti Pulau Jaloh masih harus menunggu rembesan air dari dasar sumur untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Pulau Jaloh menjadi potret nyata ketimpangan pembangunan antara wilayah perkotaan dan pulau-pulau penyangga Kota Batam.

Ketika perdebatan mengenai pengelolaan air terus menjadi perhatian publik, masyarakat di pulau terluar justru masih bergulat dengan persoalan yang paling mendasar, memperoleh air untuk bertahan hidup.

Air bersih merupakan hak dasar setiap warga negara sekaligus layanan publik yang semestinya dipenuhi oleh pemerintah.

Karena itu, kondisi yang dialami masyarakat Pulau Jaloh tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan musiman semata, melainkan menjadi alarm bagi Pemerintah Kota Batam dan pemangku kepentingan terkait untuk segera menghadirkan solusi yang berkelanjutan.

Pembangunan infrastruktur air tidak hanya diukur dari besarnya investasi atau megahnya proyek yang dibangun, tetapi sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di pulau-pulau hinterland yang selama ini kerap berada di pinggir perhatian.

Penulis : Nizamul Akhyar
Editor   : Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BP Batam Berikan Anugerah Investasi 2026, Apresiasi Kontribusi Investor bagi Pembangunan Batam

1 November 2026 - 19:30 WIB

Amsakar: Pendidikan Jadi Investasi Penting untuk Siapkan Generasi Batam Berdaya Saing Global

31 Oktober 2026 - 19:17 WIB

HUT ke-26 DPRD Batam, Amsakar Tekankan Sinergi dan Kolaborasi Pembangunan

31 Oktober 2026 - 19:10 WIB

Kecamatan Sagulung Ukir Prestasi, Raih IPP 4,20 Kategori A dan Puncaki Penilaian Pelayanan Publik Se-Kota Batam 2026

30 Oktober 2026 - 20:46 WIB

Karang Taruna Kota Batam: Peringati Hari Sumpah Pemuda Ke-98, Ketua Karang Taruna Kota Batam Ajak Pemuda Bersatu, Berkarya dan Berjaya Untuk Kemajuan Batam

30 Oktober 2026 - 17:42 WIB

Trending di Batam