Pesantren An Ni’mah Sagulung Terbakar, Santri Terlihat Panik dan Berhamburan Dewi Ansar Buka OKE GAS di Mapur, Perkuat Peran Keluarga Cegah Stunting DPP GEMA SILAMPARI Desak Usut Dugaan Penyimpangan Anggaran Proyek Infrastruktur Di Kota Lubuklinggau. Pemprov Kepri dan Kejati Kepri Perkuat Pengamanan Proyek Strategis dan Pemulihan Aset Daerah Merawat Warisan Sejarah Pulau Penyengat, Harapan Ekonomi Masyarakat Menguat 442 Atlet Batam Berlaga di Porprov Kepri 2026, Targetkan Juara Umum

Aceh

Diskusi ACI (Aceh Cakrawala Institute) Bedah Tantangan dan Peluang Investasi Aceh

badge-check


					Diskusi ACI (Aceh Cakrawala Institute) Bedah Tantangan dan Peluang Investasi Aceh Perbesar

Realbatam.com. Banda Aceh-Kepercayaan investor, kepastian hukum, regulasi, infrastruktur, hingga pengelolaan potensi ekonomi menjadi sejumlah tantangan yang perlu dibenahi Aceh untuk meningkatkan daya saing dan menarik investasi. Persoalan tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik #Series3ACI yang digelar Aceh Cakrawala Institute (ACI) di VIP Room Gunongan Kopi, Banda Aceh, Rabu (19/8/2026). Diskusi mengangkat tema “Membangun Daya Saing dan Iklim Investasi Aceh di Era Perdamaian Berkelanjutan” dengan menghadirkan akademisi, anggota legislatif, dan pelaku usaha.

Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Rustam Effendi, mengatakan kepercayaan investor menjadi salah satu kunci utama untuk mendorong masuknya investasi ke Aceh. Menurut Rustam, besarnya potensi sumber daya alam dan keunggulan geografis Aceh belum cukup apabila tidak disertai kepastian hukum dan perizinan yang jelas. “Investor membutuhkan kepastian hukum dan perizinan. Mereka harus yakin bahwa investasi yang ditanamkan aman dan terlindungi. Itu yang paling penting,” kata Rustam. Ia menilai pemerintah perlu memberikan rasa aman dan kepastian bagi investor dalam menjalankan kegiatan usaha. Tanpa kepastian tersebut, berbagai potensi ekonomi yang dimiliki Aceh akan sulit dikonversi menjadi investasi.

Sementara itu, Anggota Komisi III DPR RI, M. Nasir Djamil, mengatakan Aceh perlu menawarkan potensi ekonominya secara lebih konkret kepada investor. Menurut Nasir, pemerintah daerah harus mampu menerjemahkan keunggulan geografis dan sumber daya Aceh menjadi peluang usaha yang jelas dan menarik. Ia menyoroti posisi Aceh di ujung barat Sumatera yang berbatasan langsung dengan kawasan samudra. Keunggulan tersebut, kata dia, perlu dikembangkan menjadi salah satu kekuatan ekonomi daerah. Nasir juga mendorong pengembangan Sabang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Menurut dia, Sabang perlu dipandang sebagai proyek ekonomis, bukan semata-mata proyek politis, sehingga dapat tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat. Selain investasi, Nasir menyoroti pengelolaan sektor minyak dan gas di Aceh. Ia menilai proses komunikasi dan negosiasi dengan perusahaan migas perlu disesuaikan dengan skala dan karakter perusahaan. “Seluruh proses negosiasi sektor migas harus mengedepankan kepentingan masyarakat luas, bukan kepentingan kelompok tertentu,” ujarnya. Regulasi Jangan Tumpang Tindih.

Dari sisi legislatif daerah, Anggota Komisi IV DPR Aceh, Khalid, S.Pd.I, menekankan pentingnya dukungan infrastruktur dan regulasi dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif. Ia mengatakan pemerintah dan DPR Aceh perlu memastikan kebijakan daerah tidak menjadi hambatan bagi investor. Menurut Khalid, regulasi harus disusun secara jelas, konsisten, dan tidak tumpang tindih agar memberikan kepastian bagi pelaku usaha.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum KADIN Aceh Bidang Investasi, TAF Haikal, menyoroti pentingnya menciptakan iklim usaha yang kondusif dari perspektif dunia usaha. Menurut dia, kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha diperlukan agar potensi ekonomi Aceh dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha yang memberikan nilai tambah bagi daerah.

Direktur Eksekutif ACI, Agus Maulidar, mengatakan diskusi tersebut merupakan bagian dari komitmen ACI untuk mengawal isu pembangunan sekaligus memperluas wawasan masyarakat mengenai persoalan strategis di Aceh. “Sinergi antara akademisi, legislatif, dan pelaku usaha penting dalam merumuskan strategi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan demi masa depan Aceh yang lebih kompetitif,” kata Agus. Diskusi tersebut diharapkan menjadi ruang untuk merumuskan gagasan dan langkah konkret dalam memperkuat daya saing serta menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif di Aceh. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sukseskan Layanan JKN, DPP dr. Leni Afriani, M.K.T Bersama BPJS Kesehatan Langsa Jaring 36 Pasien PRB Lewat Mentoring Spesialis

16 Oktober 2026 - 11:32 WIB

PII Aceh Soroti Akses Pendidikan Pidie Jaya, Darwati Siap Suarakan ke Pusat

15 Oktober 2026 - 13:09 WIB

BGN Aceh dan Pemkab Bener Meriah Perkuat Sinergi, Dorong Bener Meriah Jadi Lumbung Pangan Aceh untuk Mendukung Program MBG

9 Oktober 2026 - 03:23 WIB

IKOED CUP V Meriah, 13 Tim Alumni Oemar Diyan Ramaikan Turnamen Minisoccer

6 Oktober 2026 - 13:46 WIB

Tutup Festival PKRM 2026, Ketua PRIMA DMI Langsa Dorong Pemerintah Beri Perhatian Lebih besar kepada Remaja Masjid

27 September 2026 - 11:59 WIB

Trending di Aceh