Realbatam.com. Dompak- Adalah sebuah kebanggaan karena Raja Ali Haji berada di Magtymgyly Pyragy Park, “berdiri” di antara 24 patung perunggu pahlawan literatur, penyair, dan pemikir ternama dari berbagai negara di dunia.
Magtymgyly Pyragy Park – dikenal resmi sebagai Magtymguly Pyragy Cultural Park Complex – adalah kompleks taman budaya megah yang terletak di Distrik Büzmeýin, di sepanjang Archabil Avenue, pinggiran selatan kota Ashgabat, Turkmenistan.

Kompleks taman budaya ini berada tepat di kaki bukit pegunungan Kopetdag. Luasnya 41 hektare.
Kompleks ini diresmikan oleh Presiden Serdar Berdimuhamedov pada 17 Mei 2024 untuk memperingati hari lahir ke-300 Magtymguly Pyragy (1724–1807). Ia adalah penyair nasional, Sufi, dan filsuf paling berpengaruh dalam sejarah sastra Turkmenistan.
Magtymgyly Pyragy Park dirancang tidak hanya sebagai ruang terbuka publik yang asri, tetapi juga sebagai simbol diplomasi budaya, persahabatan antar bangsa, dan penghormatan Turkmenistan terhadap warisan sastra dunia.
Di taman berjarak sekitar 6.600 kilometer dari Provinsi Kepulauan Riau itu, patung pujangga, sejarawan, dan ulama besar dari Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Raja Ali Haji berdiri.
Patung dibuat dari bahan perunggu murni setinggi 3,5 meter, ditempatkan di atas sebuah alas (pedestal) marmer putih—material khas yang mendominasi seluruh arsitektur megah di ibu kota Ashgabat. Di bagian bawahnya tertulis nama serta keterangan mengenai kontribusi Raja Ali Haji sebagai sejarawan, teolog, dan ahli tata bahasa.
Patung Pahlawan Nasional di bidang bahasa dan sastra itu berdiri bersama 23 patung pahlawan literatur, penyair, dan pemikir ternama lainnya dari berbagai negara di dunia. Di antaranya William Shakespeare (Inggris), Johann Wolfgang von Goethe (Jerman), Dante Alighieri (Italia), Honoré de Balzac (Prancis), Rabindranath Tagore (India), Yasunari Kawabata (Jepang), dan Mihai Eminescu (Rumania).
Ke-24 patung – termasuk patung Raja Ali Haji – berbahan dan memiliki tinggi yang sama: dari perunggu murni setinggi 3,5 meter. Terkecuali patung perunggu kolosal Magtymguly Pyragy yang memiliki tinggi 60 meter.
Keberadaan Patung Raja Ali Haji di Magtymgyly Pyragy Park setelah Pemerintah Turkmenistan mengurasi pemikir, teolog, dan sastrawan besar dari berbagai negara.

Raja Ali Haji terpilih sebagai perwakilan dunia Melayu/Nusantara berkat kontribusi besarnya dalam meletakkan dasar-dasar tata bahasa Melayu (yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia) serta karya sastra monumentalnya seperti Gurindam Dua Belas.
Kenapa Tidak di Pulau Penyengat
Jika Pemerintah Turkmenistan saja dengan bangga menempatkan Patung Raja Ali Haji di taman budaya mereka yang megah, kenapa tidak di Pulau Penyengat?
Ini tentu menjadi sebuah pertanyaan relevan yang harus dijawab oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dengan rencana mendirikan Tugu Bahasa di Pulau Penyengat, pulau kelahiran Raja Ali Haji sekaligus tempat lahirnya Bahasa Indonesia.
“Pembangunan Tugu Bahasa ini untuk menegaskan bahwa Pulau Penyengat adalah tempat lahirnya akar Bahasa Indonesia. Ini menjadi kebanggaan sekaligus penguatan identitas sejarah dan budaya kita,” tegas Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad di dalam berbagai kesempatan.
Monumen Tugu Bahasa Nasional dirancang bukan sebagai bangunan fisik biasa, melainkan sebagai pusat ekosistem kebudayaan dan kebahasaan yang hidup, fungsional, dan memiliki daya tarik jangka panjang.

Proyek ini terdiri dari dua komponen utama yang saling melengkapi: Monumen Tugu dan Museum Bahasa.
Monumen Tugu Bahasa — Struktur ikonik yang akan menjadi landmark baru Kepulauan Riau dan simbol visual yang kuat atas kontribusi Kepri terhadap bahasa persatuan bangsa. Tugu ini direncanakan dibangun di Bukit Kursi, Pulau Penyengat — lokasi strategis yang memiliki pemandangan luas ke berbagai arah, mencakup kawasan Dompak, Tanjungpinang, Senggarang, hingga Batam. Monumen direncanakan dilengkapi fasilitas lift menuju bagian atas tugu untuk memberikan pengalaman panoramik yang tak terlupakan bagi setiap pengunjung.
Museum Bahasa, Fasilitas edukasi dan kebudayaan yang akan memamerkan perjalanan panjang Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia, menampilkan arsip karya-karya sastra Melayu klasik, serta ruang-ruang interaktif yang memungkinkan pengunjung dari segala usia menyelami kekayaan bahasa dan sastra Nusantara secara langsung dan mendalam.
Museum dan Monumen Tugu Bahasa yang pembangunannya direncanakan dimulai bulan ini tidak hanya mengokohkan Pulau Penyengat sebagai tanah kelahiran Bahasa Indonesia, namun juga memiliki manfaat berlapis: sebagai penguat identitas kebudayaan Kepulauan Riau, menjadi magnet wisata sejarah bertaraf internasional, menjadi magnet wisata, penggerak ekonomi, bahkan akan menjadi warisan peradaban di masa mendatang.
Jika Turkmenistan mengenang jasa Raja Ali Haji yang karya-karyanya sangat dihormati di dunia, tentu sudah selayaknya pula tanah kelahirannya ditempatkan bangunan megah untuk mengabadikan karyanya.
Sumber: MC Kepri
Redaksi: Asyraf A
Editor : Amka










