Realatam.Com.Taheran, Tekanan terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk segera mengakhiri perang melawan Iran semakin menguat. Sejumlah elit di Gedung Putih dilaporkan mulai khawatir konflik berkepanjangan justru membawa kerugian strategis, ekonomi, dan politik bagi Washington.
Perpecahan internal di lingkaran kekuasaan terlihat jelas. Sejumlah penasihat senior mendesak agar operasi militer dibatasi dan segera diakhiri, sementara kelompok garis keras tetap mendorong tekanan militer terhadap Teheran. Sumber internal menyebut terjadi “tarik-menarik” serius dalam menentukan arah kebijakan perang.
Di sisi lain, dampak perang mulai terasa luas. Harga energi melonjak tajam akibat terganggunya jalur vital Selat Hormuz, sementara pasar global bergejolak. Tim ekonomi Gedung Putih memperingatkan bahwa lonjakan harga bahan bakar bisa berdampak langsung pada elektabilitas politik Trump menjelang agenda domestik penting.
Gelombang Kritik dari Dalam Pemerintahan
Ketidakpuasan internal mencapai puncaknya setelah pengunduran diri pejabat tinggi kontra-terorisme AS, Joe Kent. Ia secara terbuka menolak perang tersebut, menyatakan bahwa Iran “tidak menimbulkan ancaman langsung” terhadap Amerika Serikat.
Langkah Kent menjadi sinyal kuat adanya keretakan serius dalam pemerintahan. Bahkan, kritik juga datang dari kalangan intelijen dan politisi yang menilai dasar perang tidak cukup kuat secara hukum maupun strategis.
Korban Jiwa dan Dampak Kemanusiaan
Konflik yang dimulai sejak akhir Februari 2026 ini telah menelan korban besar. Lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas di berbagai wilayah, termasuk Iran, Lebanon, Israel, dan Pangkalan AS di teluk. Situasi kemanusiaan juga memburuk dengan meningkatnya jumlah pengungsi dan ancaman krisis pangan.
Serangan balasan Iran turut memperluas eskalasi ke kawasan Teluk, meningkatkan risiko perang regional yang lebih besar. Meski serangan udara AS dan sekutunya diklaim menghancurkan sejumlah target militer penting, laporan intelijen menyebut pemerintah Iran justru semakin menguat secara internal.
Trump Bersikukuh, Tapi Mulai Goyah
Di tengah tekanan, Trump menunjukkan sikap yang tidak konsisten. Di satu sisi, ia mengklaim operasi militer hampir selesai dan target utama telah tercapai.
Namun di sisi lain, ia juga sempat mengisyaratkan keraguan dengan menyatakan bahwa Amerika “mungkin tidak perlu berada di sana,” memicu kritik dari berbagai pihak.
Penolakan Iran terhadap permintaan gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat, menandakan belum adanya komitmen kuat untuk menghentikan konflik dalam waktu dekat.
Desakan Menguat
Dengan tekanan politik domestik, gejolak ekonomi, serta minimnya kemajuan strategis di lapangan, suara-suara dari dalam Gedung Putih yang meminta penghentian perang semakin lantang, jika konflik terus berlarut, bukan hanya stabilitas kawasan Timur Tengah yang terancam, tetapi juga posisi politik Trump di dalam negeri bisa ikut terguncang.
Situasi kini berada di titik krusial: antara melanjutkan perang dengan risiko besar, atau mengakhiri konflik yang sejak awal menuai kontroversi di dalam pemerintahannya sendiri







