Pesantren An Ni’mah Sagulung Terbakar, Santri Terlihat Panik dan Berhamburan Dewi Ansar Buka OKE GAS di Mapur, Perkuat Peran Keluarga Cegah Stunting DPP GEMA SILAMPARI Desak Usut Dugaan Penyimpangan Anggaran Proyek Infrastruktur Di Kota Lubuklinggau. Pemprov Kepri dan Kejati Kepri Perkuat Pengamanan Proyek Strategis dan Pemulihan Aset Daerah Merawat Warisan Sejarah Pulau Penyengat, Harapan Ekonomi Masyarakat Menguat 442 Atlet Batam Berlaga di Porprov Kepri 2026, Targetkan Juara Umum

Anambas

Tradisi Unik Anambas: Berendam dan Bakar Ikan Jelang Ramadhan di Air Terjun Temburun

badge-check


					Tradisi Unik Anambas: Berendam dan Bakar Ikan Jelang Ramadhan di Air Terjun Temburun Perbesar

RealBatam.com,Anambas-Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Kepulauan Anambas kembali menjalankan tradisi turun-temurun di Air Terjun Temburun. Tradisi ini ditandai dengan berendam di air mengalir dan makan bersama keluarga sebagai simbol penyucian diri.

Beberapa hari sebelum Ramadhan, warga mulai berdatangan ke lokasi air terjun yang dikenal dengan undakan batu bertingkat dan airnya yang jernih. Mereka membawa bekal makanan, tikar, serta perlengkapan sederhana untuk berkumpul bersama keluarga maupun kerabat.

Berendam di air terjun menjadi inti tradisi tersebut. Air yang mengalir dimaknai sebagai simbol membersihkan diri, baik secara lahir maupun batin, sebelum memasuki bulan penuh ampunan.

Suasana penuh keakraban terasa ketika warga berendam bersama. Di sela aktivitas itu, mereka memanjatkan doa agar diberi kekuatan dan kelancaran menjalani ibadah puasa.

Usai berendam, warga melanjutkan tradisi dengan membakar ikan di sekitar lokasi air terjun. Kegiatan ini tidak sekadar makan bersama, tetapi juga memiliki makna filosofis sebagai simbol membakar kesalahan masa lalu dan memulai lembaran baru.

Tokoh masyarakat setempat, Bagas Apriboy, mengatakan tradisi tersebut telah berlangsung sejak lama dan terus dijaga hingga kini.

“Tradisi ini sudah ada sejak dulu, diwariskan turun-temurun. Biasanya warga dari berbagai pulau datang untuk menjalankannya,” ujarnya, Minggu (15/2).

Ia menjelaskan, puncak tradisi biasanya berlangsung sehari sebelum Ramadhan. Namun, sebagian warga kini menyesuaikan waktu pelaksanaan karena faktor kesibukan dan jarak tempuh.

Meski demikian, makna tradisi tetap terjaga, yakni sebagai momentum membersihkan diri dan mempererat silaturahmi.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini tetap menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Anambas, sekaligus pengingat akan nilai spiritual dalam menyambut Ramadhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pimpin Apel Gabungan, Bupati Aneng Tekankan Pentingnya Disiplin dan Integritas ASN

27 Oktober 2026 - 04:04 WIB

Pemulihan Listrik PLN Capai 100%, BP Batam Turun Langsung Kawal Layanan dan Dunia Usaha

14 Oktober 2026 - 15:27 WIB

Akhiri Pengabdian 24 Tahun, Suryani Terima Ucapan Selamat Purna Tugas

14 Oktober 2026 - 15:24 WIB

Desa Piabung Dapat Berkah Rp3,7 Miliar, Bupati Aneng Tepung Tawari Kampung Nelayan Merah Putih

11 Oktober 2026 - 23:07 WIB

Bupati Aneng Sebut Kepri Terang Sentuh 14.340 Rumah Tangga Dalam Hari Jadi Kepri ke-24

25 September 2026 - 18:15 WIB

Trending di Anambas